THE ISLAND

Sci-Fi Story

 

Namaku adalah Reno, umurku sekitar 12 tahun, aku merasa cukup senang dengan semua keluargaku. Kami tinggal disebuah rumah kontrakan disebuah kota kecil ditengah-tengah laut. Dipulau ini hampir semua barang-barang dan makanan mahal. Karena pulau kami benar-benar jauh dari jangkauan kota.. jauh banget!!!

Sebagian dari keluarga kami benar-benar bekerja dengan keras. Untuk mendapatkan uang banyak. Begitupun dengan kami, hampir semua anak-anak dipulau terpencil kami bekerja sebagai apapun untuk membantu tidak membenani orang tua kami. Apapun, asal tidak mencuri dan mengemis. Kebanyakan anak-anak sana bekerja sebagai nelayan, petani, dan pengurus-pengurus kontainer-kontainer barang-barang ekspor yang akan dikirim dipulau kami, antara lain barang pangan dan pakaian serta obat-obatan. Sekarang aku bekerja sebagai tukang perahu yang membantu pengirim-pengirim barang dari kontainer dan aku yang membantu menyebrangkan mereka keseberang lautan agar barang-barangnya sampai kepulau dengan membantu mengemudikan perahu. Perahu ini bukan jperahu biasa, aku dan teman-temanku benar-benar bergantung pada perahu ini, jika perahu ini rusak alias gak bisa dipakai lagi maka kami tidak bisa bekerja lagi karena semua lapangan pekerjaan sudah diambil orang dewasa semua.

Nah.. hari ini adalah hari libur, aku dan teman-temanku pergi bersama-sama naik perahu memancing ikan. Kata keluarga kami, jangan jauh-jauh perginya, aku sih bisa saja, tapi ada salah satu temanku yang menantang. Temanku ingin pergi kesalah satu pulau terpencil diseberang pulau kami, cukup jauh sih tempatnya, kira-kira 5 km saja.Aku takkan tahu apakah perahu kami bisa pergi jauh-jauh, mentang-mentang cari pengalaman jangan lupakan perahu juga dong yang kecapekan…

 

Kami hampir menghabiskan waktu kami ditengah-tengah laut dengan bermain, makan ikan hasil pancingan dari laut dan membawa minum, minuman kami juga terbatas. Beberapa jam kemudian sampailah kami dipulau itu. Pulau itu cukup besar tempatnya tapi tetap lebih besar punya kami.

Ada salah satu teman kami mengatakan bahwa pulau ini dulu dilanda longsor dan banjir yang sangat hebat. Entah apa yang terjadi padahal waktu itu tidak ada hujan yang lebat.

Kami menyusuri dan berjalan-jalan dihutan pulau itu. Kami sangat senang berada disana, tidak ada orang dan ini saatnya kami menikmati liburan kami. Kami lompat-lompat antara pepohonan besar dan berlari-lari menyusuri hutan.

Hari semakin sore dan kami akan segera pulang tapi karena terlalu bersenang-senang sehingga kita tersesat dimana-mana dan kami tidak tahu kita berada diposisi mana. Teman-temanku saling bertengkar karena kami tersesat, kami sedikit-sedikit saling bekerjasama dan akan menyelesaikan ini bersama-sama tapi sayanganya tetap saja kita tetap tersesat, malahan kita gak bawah kompas lagi… Kami berusaha untuk mencari jalan keluar menuju pantai. Tapi beberapa menit kamudian kita belum berhasil juga.

Tiba-tiba saja kami melewati sebuah kota. Kotanya tidak berpenghuni tapi kota itu sangat besar sekali tapi sayang tidak terawat dan tidak berpenghuni. Aku dan teman-temanku memutuskan untuk melihat-lihat kota itu.

Kata temanku bilang mungkin ini adalah kota bekas banjir dan longsor dan semua  penghuninya pergi dari pulau itu, makanya itu sekalian juga aku dan teman-temanku ingin mengetahui apa yang terjadi dikota ini. Pulau ini penuh kejanggalan semuanya.

 

Kami masuk kedalam gedung wali kota dan kantor-kantor sampai pada saat itu, karena menurut kami tempat itu menyimpan segala informasi tentang kota ini. Salah satu temanku pernah mempelajari tata ruang kantor walikota ini karena ia dan ayahnya bekerja sebagai interior designer khusus kantor. Disini ada beberapa lemari yang dikategorikan sebagai dokumen-dokumen paling penting dan kami menemukan sesuatu. Yaitu buku-buku yang tebal tentang kota ini dan kami mengetahui bahwa kota ini bernama ‘PULAU’. Aku sempat kebingungan kenapa nama pulau ini disebut pulau juga?? Apakah mereka tidak tahu mau dinamakan apa kota ini? Kami melihat beberapa artikel  bahwa ternyata pulau ini sama seperti pulau kami, mempekerjakan beberapa anak-anak secara sukarela. Kami memang mengetahui asal-usul dan cerita-cerita tentang PULAU ini. Tapi kami masih tidak tahu mengapa tempat ini begitu sepi. Tiba-tiba saja, kami mengalami gempa bumi, semua barang-barang disekitar kami bergerak tapi untungnya gempa bumi ini hanyab sebentar saja. “Thu ‘kan apa kubilang? Kalian gk percaya sih…” kata salah satu temanku meyakinkan ceritanya tentang pulau ini. Gempa bumi itu membuat kami penasaran lalu kami segera keluar kantor agar gempa susulan tidak menghancurkan kita didalam. Saat berada diluar. Tiba-tiba saja, gempa susulan datang dan meretakan pulau ini didekat kita. Untungnya kita aman. Aku dan teman-temanku pergi ketempat sumber retakan bumi ini. Kami tahu kok sumbernya dimana. Retakan itu jauh sekali tempatnya, tepatnya masih berada dihutan-hutan. Akhirnya sumbernya ketemu juga, kami cuma melihat sebuah pohon besar berdiri dan retakan itu dibawah pohon itu.  Kami hanya terheran-heran mengapa sumbernya cuma pohon saja, atau kami tidak salah mengira? Diatas pohon, kami melihat sebuah rumah pohon, rumah pohon yang sederhana sekali, sepertinya itu untuk penjagaan dan pengawasan untuk kapal-kapal yang datang untuk mengantarkan bahan pangan untuk warga-warga dipulau ini. Kami’pun bergegas untuk naik keatas untuk melihat apa yang ada diatas sana. Setelah aku dan teman-temanku sampai keatas, kami sangat kagum, disana banyak sekali barang-barang elektronik keren yang belum pernah kami temui, bahkan, ini nseperti barang-barang mahal yang ada dipusat-pusat perbelanjaan dan pelelangan mahal. Karena kami begitu takjub, maka kami menyentuh barang-barang itu, serta mencoba mengutak-atik barang-barang itu. Kami harus hati-hati memegangnya, karena takutnya sesuatu akan terjadi. Tiba-tiba saja, salah satu temanku menekan tombol besar mesin yang besar. Seketika mesin itu mengeluarkan gelombang listrik warna biru yang menyengat, kamipun berhati-hati dengan mesin itu, tiba-tiba mesin mengeluarkan sejenis cahaya dan cahaya itu mengarah kerentangan kain yang besar dan lebar. Aku akhirnya menyadari bahwa mesin ini adalah proyektor, tapi dikota kami proyektornya tidak sebesar ini.

“Wah! Lihat.. ada seseorang disana.” Seru temanku. Kami melihat dilayar ada seorang anak laki-laki seumuran kita. Anak laki-laki itu mengatakan bahwa pulau ini adalah pulau yang indah, terkenal dengan tanaman liar dan hidupnya. Kami melihat beberapa adegan yang menyiarkan tanaman-tanaman raksasa yang indah, kami tidak tahu apa jenis tanaman itu, tapi jujur… tanaman itu indah sekali. Kemudian anak itu membicarakan soal pantainya.. pantainya kami lihat cukup indah. Ternyata itu pantai yang kita lewati waktu pertama kali sampai.

Srekk.. srekk.. srekk… sreeeeeekkk….

“Huh?! Kenapa ini?’ kataku kepada layar proyektor itu. Tiba-tiba saja, film itu mati sendiri setelah macet-macet berhenti. Aku sengaja mengambil kaset dari proyektor itu. Kemudian kami jalan-jalan kembali menyusuri hutan untuk mencari jalan keluar. Kami masih belum tahu kenapa gempa itu terjadi.  

Sudah satu jam aku dan teman-temanku berjalan-jalan dihutan pedalaman itu, bahkan jika bosan, kami memanjat pohon seperti monyet dan berlomba-lomba siapa yang paling cepat larinya, akupun ikut-ikutan. Tiba-tiba saja terdengar suara raungan dari jauh. Ksmi mengira pasti itu adalah singa. Kamipun ketakiutan lalu berlari kencang, kami tidak tahu darimana suara itu berasal tapi kira-kira saja suara raungannya dari angin mana. Kami pun semakin cepat berlari tiba-tiba saja, kami menghadap sebuah…

Yah, ampun aku tak percaya ini. Apakah ini mimpi? Kaset yang kami tonton dirumah pohon tadi, benar apa adanya. Ada tanaman raksasa liar dan hidup. Tanaman ini seperti bunga Mawar tapi didalam kelopaknya yang merah ada gigi-gigi yang tumpul seperti gigi manusia. Ia suka memakan dedaunan. Teman-temanku takut karena belum pernah melihat hal semacam ini. Akupun juga takut, ketika Mawar raksasa itu melihat kami ia mengarah kebawah melihat kami. Karena aku langsung berada didepannya. Aku berusaha tersenyum dengan ramah dan pelan-pelan menjulurkan tanganku hpada bunga besar itu, awalnya Mawar itu ragu-ragu kemudian ia juga bertindak ramah kepadaku. Teman-temanku juga lama-kelamaan bisa bersahabat dengan mereka.  Kami merasa senang bisa bersahabat dengan tanaman ini. Kami bermain-main dengan Mawar raksasa ini selama setengah jam, ketika hari sudah sore. Kami harus cepat-cepat pulang, kami mencoba berbicara dengan mawar itu untuk mencari jalan keluar. Tiba-tiba saja…. gempa itu terjadi lagi. Kini gempanya lebih kuat dan para mawarpun ketakutan. Tiba-tiba saja dihadapan kami pohon-pohon besar tumbang secara tiba-tiba. Akhirnya kami menyadari bahwa pulau ini terlalu kecil dan memiliki permukaan tanah yang tipis dan akhirnya pulau ini akan TENGGELAM!!! Kami langsung berlari-lari untuk menemukan jalan keluar. Tapi sayangnya bunga-bunga raksasa ini tidak bisa melarikan diri karena mereka akarnya tertanam ketanah tentu saja mereka tidak bisa keluar, karena akar mereka terlalu dalam tertanam dan jika dipaksakan maka tumbuhan ini akan mati. Saat kami berlari ditengah-tengah kehebohan pepohonan yang tumbang, hampir saja menimpa kita. Saat kami berlari kami mendengar suara teriakan kecil, aku melihat kebelakang dan ternyata tanaman kecil, tanaman bunga berwarna ungu dan mengeluarkan suara yang lucu sekali. Karena aku tidak kasihan melihat tumbuhan itu berteriak-teriak karena gempa yang terjadi, aku dengan temanku menyelamatkan tanaman hidup itu dengan tanah serta akarnya. Sedangkan temanku yang berada jauh berteriak kearah kita,”Woy!!! Aku melihat perahu kita!!!” aku dan teman-temanku bergegas berlari dan menuju perahu kita. Untung perahunya masih dalam keadaan utuh. Cepat-cepat kami mendorong perahu dan… akhirnya kami keluar dari pulau itu. Sayang sekali, padahal pulau ini sangat bagus dan terdapat tumbuhan jinak yang bisa bersahabat dengan manusia. Sayangnya kami hanya bisa menyelamatkan bunga ungu kecil ini.

 

Kami berlayar dengan perahu kami sambil memandang dari kejauhan pulau itu tenggelam secara perlahan-lahan dan meninggalkan suara raungan keras bunga-bunga itu. Sayang sekali teman-teman, padahal pulau itu bisa saja kami tinggali dan bunga-bunga raksasa itu menjadi teman-teman kami. Sekarang kami cuma memiliki bunga kecil warna ungu ini, aku yakin bahwa bunga ini adalah hasil perkawinan dari bunga raksasa lain dan nantinya bunga ini akan tumbuh besar, aku yakin kok.

Kami tidak tahu siapa yang menciptakan bunga ini atau ini adalah ciptaan manusia lewat biologis kimia tapi yang pasti aku dan teman-temanku tidak mengetahui itu dan kami akan menjaganya. Karena ini ciptaan yang fantastis sekali.

Menjelang hari malam, kami sampai dipulau kami yang sebenarnya, kami disambut teman-teman lain yang ada disana. Kami menanam tanaman ini dihutan yang belum dihuni. Tempat yang tidak akan diketahui oleh siapapun, cuma aku dan temanku yang tahu. Jujur, tumbuhan ini lucu sekali…. Aku dan teman-temanku berjanji satu sama lain untuk menjaga ciptaan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s